Dataku sebesar 200an GB lenyap?!!!

Ini adalah kisah yang kualami sendiri saat upgrade Ubuntu 18.04.0 beberapa hari lalu. Jadi yah, bisa dibilang ini adalah kisah nyata sekaligus berbagi tutorial, yang (semoga) berguna untuk siapaun yang mengalami kejadian serupa dan sekaligus sebagai catatan untuk diriku sendiri di masa depan jika seandainya kasus serupa terulang kembali.

Kita mulai dari kisahnya dulu. Jadi ceritanya ini laptop (Asus K401LB, bisa dilihat di artikel lain) sejak awal tidak saya isi Windows, selain malas ngeluarin kocek tambahan, kebetulan pingin sedikit bergaya (ciieee…) dengan ke mana-mana bawa laptop linux. Singkat cerita sejak saya pakai Xenial (Ubuntu 16 LTS) saya tidak pernah mengalami masalah/kendala berarti. Semuanya lancar, aman terkendali, hingga kemarin (26 April 2018) muncul lah sang penerus yakni Bionic Beaver (Ubuntu 18 LTS). Saya memang agak malas mengikuti versi pre-release-nya, tapi diam-diam saya membaca review-review dari para pengguna di luar, dan yah jujur saja saya memang sangat mengharapkan update kernel cukup besar mengingat masih banyak shortcut trouble saat ubuntu dipakai di laptop. Hari H yang ditunggu-tunggu pun tiba, 27 April pagi-pagi saya buru-buru lakukan upgrade di menu aptitude dan hasil ZONK!!! alias masih belum bisa upgrade. Aaarrggghhh…

Tidak putus asa, saya intip di website resmi ubuntu.com. Wah installernya uda nongol nih, buruan sedot ah sebelum ke kantor karena inet d rumah lebih cepat daripada di kantor (somboonngg…). Selesai download, pasang installer ke FD, buru-buru deh ke kantor. Skip cerita.. Tanpa basa-basi kuformat partisi OS dan ganti pakai yang baru. Waktu berlalu dengan cepat, beberapa drama ‘jadul’ pun terulang. Mulai dari crash GRUB-nya hingga terpaksa akhirnya install ulang dengan UEFI. Dan setelah sekitar 2jam berlalu, akhirnya bisa melihat logo Kubuntu muncul. Yeaaayy!!! Masukin password daannn.. nothing happened.. F***!!!! Coba utak-atik agak lama, install ulang lagi dengan berbagai pilihan menu berbeda, dan tetap nyangkut gak bisa login. Coba versi konsole/terminal, masuk tuh.. tapi StartX langsung crash.. setelah berulang-ulang error baru sadar ternyata dalam pesan error-nya (gak sempat fotoin, sorry) disebutkan (kira-kira) partisi untuk /home tidak bisa ditulisi. eh?!!!

Setelah mikir-mikir sejenak kuputuskan untuk merubah susunan partisi. Untungnya HDD kubuat bukan cuma 2 melainkan 4 partisi (niatan awalnya 2 yang lain buat cadangan untuk OS FAT32 😀 ), jadinya masih ada space yang bisa diutak-atik. Pindahlah directory /home dari partisi no.5 ke partisi no.6 (penjelasan mengenai kenapa bisa sampai partisi sebanyak itu nanti saya ceritakan di artikel lain saja). Sampai sini laptop sudah bisa berjalan lancar, tidak ada masalah berarti, kecuali dataku (di partisi no.5) yang besarnya 200GB an.. #sob

Butuh sekitar 2jam an sampai akhirnya saya sdar bahwa data saya itu bukan corrupt melainkan terkena enkripsi dari si eCryptfs. Beneran saya lupa, karena enkripsi itu dibuat pada jaman masih nyobain pakai Debian Jessie. Setelah Jessie, waktu pindahan ke Xenial gak ada masalah sama sekali, dan entah kenapa di sini jadi masalah. Tanya-tanya ke mbah Google, saya dapat ide untuk mengeksekusi perintah: ecryptfs-recover-private pada folder .Private di partisi tersebut. Dan anehnya hasilnya FAILED!!! Aaarrrggghhh…

Setelah nyaris semalaman akhirnya saya menemukan solusi, berikut:

  1. cari file bertuliskan ‘wrapped passphrase’, lalu eksekusi file tersebut dengan perintah: ecryptfs-unwrap-passphrase
  2. simpan baik-baik hasil dari eksekusi perintah di atas. Kombinasi karakter tersebut selanjutnya akan disebut sebagai mount passphrase.
  3. jalankan: sudo ecryptfs-add-passphrase –fnek
  4. saat diminta input passphrase, masukkan mount passphrase tersebut

Screenshot_20180502_141259

    5. Setelah muncul tampilan seperti di atas, simpan karakter pada bracket baris ke-2 (contoh: 76a9f….)
6. Lakukan: sudo mount -t ecryptfs <partisi terenkripsi> <target mounting>
7. Perintah di atas adalah interaktif manual mounting + decrypting, untuk praktisnya masukkan saja inputan berikut:

  • Passphrase: <masukkan mount passphrase>
  • Selection: aes
  • Selection: 16
  • Enable plaintext… : n
  • Enable filename…: y
  • Filename Encryption Key… : <masukkan karakter dari bracket ke-2 tadi>

   8. Setelah proses di atas, tunggu beberapa menit, tutup dulu Dolphin jika sudah terbuka, lalu buka ulang pada mounting point tersebut; File-file tadi pasti sudah ter-decrypt di sana.

Catatan: dekripsi ini tidak permanen, data akan kembali ter-enkripsi setelah shutdown.

 

 

Iklan

Indahnya Bionic Beaver

Setelah penantian yang cukup panjang, 26 April 2018 (tepatnya 27 April 2018 pagi, WIB) akhirnya Ubuntu LTS versi final terbaru dipublikasikan. Ubuntu 18.04 ini diberi nama Bionic Beaver. Tentunya selain penggunaan kernel linux versi terbaru 4.15, juga ada segudang tambahan fitur lain. Untuk preview secara tampilan di youtube sudah banyak tuh yang upload, namun seberapa efektif penggunaannya untuk keperluan desktop/laptop sehari-hari?

Dalam tulisan kali ini, saya ingin mengulas pengalaman pemakaian saya terhitung sejak 27 April. Oh ya, sebelum membahas lebih jauh, perlu saya sampaikan bahwa saya memakai versi Kubuntu yakni flavor Ubuntu dengan desktop engine KDE; sehingga besar kemungkinan akan ada beberapa perbedaan aplikasi standar maupun tampilan desktop. Oke langsung saja, berikut beberapa pengalaman yang saya rasakan mulai dari proses instalasi:

  • Untuk proses instalasi, saya menggunakan flashdisk. Setelah bootup screen, akan ditawarkan untuk mencoba ‘live version’ dan ‘install’. Awalnya langsung saya pilih ‘install’, namun setelah beberapa steps, saya langsung kaget dan teringat kenangan buruk masa lalu.. hehehe.. yah benar, proses instalasinya NYANGKUT!!! layar berhenti pada proses instalasi di mana bar meter nya tetap 0, bahkan setelah ditinggalkan selama kira-kira 30menit. So, untuk next step-nya saya sarankan untuk memilih ‘live version testing’ saja.
  • Gelombang ke-2 testing instalasi, saya langsung klik ‘live version test’. Pada desktop testing ini langsung ditampilkan menu untuk instalasi ubuntu. Jalankan saja menu itu dan kita akan langsung mendapatkan layar instalasi OS yang sangat cantik. Gak beda jauh lah dengan layar instalasinya ‘si jendela’. hehehe.. Dan untuk proses instalasi ini seharusnya tidak ada masalah, namun jujur saya pribadi dapat masalah karena HDD yang saya pakai bukanlah HDD kosong, melainkan sudah ada datanya dan tidak boleh terhapus. Sempat terjadi crash, namun akhirnya successfully solved, nanti saya jelaskan detailnya di artikel berikutnya termasuk solusinya.
  • Lanjut ke testing setelah instalasi sukses sempurna. Secara tampilan, (menurut saya) tidak terlalu ada perbedaan dengan versi sebelumnya. Tapi yang mengejutkan adalah waktu saya mencoba shortcut-shortcut yang ada pada laptop (ASUS K401LB).Beberapa tombol shortcut function yang ada di laptop saya: sleep, airplane, brightness control, multi monitor control, touch pad locking, volume control. Semuanya berjalan lancar!!! YEEAAYYYY!!!
  • Poin berikutnya yang jadi sorotan saya adalah sleep system nya. Pada versi 14.06, jika kita melakukan sleep, selalu akan terjadi sedikit banyak problem saat reaktifasi. Mengapa? Pada forum diskusi resminya, pihak publisher mengakui bahwa ada gangguan session/session crash. Nah, pada versi kali ini, semuanya berjalan sangat lancar… hehehe..
  • Brightness control pada versi 14.06, hanya bisa dilakukan dengan scrolling pada taskbar (tepatnya pada icon battery) di desktop, sedangkan pada versi ini sudah bisa digunakan tombol ‘fn’+f6/f7.
  • Untuk keperluan presentasi dengan proyektor, tak perlu khawatir, karena di sini fitur ini berjalan jauh lebih lancar tanpa hambatan. Jika pada versi 16.04 saya pernah mengalami crash di tengah-tengah seminar gara-gara terlalu sering berpindah antara mode ‘duplicate’ dengan mode ‘extend display’ ditambah beberapa kali cabut konektor; Kemarin saya melakukan semua itu dan tidak mengalami error sama sekali. Mantaaabbb…
  • Mengenai keyboard, entah hanya saya saja atau memang begitu, pada ver 16.04 saat mengetik artikel sepanjang ini saya sering kesal karena pointer bisa tiba-tiba melompat ke lokasi yang tak terduga. Jadinya ribet tuh, harus selalu ngeliatin layar memastikan ketikan kita di tempat yang benar atau tidak. Nah di versi 18 ini, lancar jayaa, gak ada tuh yang namanya kursor lompat..
  • LAN Printer detection? LANCAR… hahaha.. yang satu ini bikin saya speechless karena baru seminggu sebelum upgrade saya bingung setup laptop ini agar bisa nge-print pada printer kantor yang tersambung via LAN. Dan setelah upgrade, gak usah bingung setting tuh, setelah scan, langsung detected dan tinggal sambungkan saja langsung bisa cetak; berasa kayak pake OS sebelah yang harus bayar lumayan itu.. 😀

Akhir kata, saya puas (pake banget) dengan upgrade OS kali ini. Bahkan saya sempat nyndir teman sekantor yang pakai OS berbayar (tentu saja versi bajakan), “nih OS ku gratis, gak perlu mbajak, gak perlu cari crack software, gak perlu bingung install anti virus, sama cantiknya pula”.. hahahaha…

Intinya, nih upgrade bikin Kubuntu bisa head-to-head dengan OS lain..

Upgrade (Debian) Wheezy (7.8) to Jessie (8.x testing)

hi all,
Pada artikel ini saya sekedar ingin share pengalaman saya dalam melakukan proses upgrade dari Wheezy(7.8) ke Jessie(8.x alias testing). Proses upgrade ini sebenarnya gampang-gampang susah. Tutorialnya sebenarnya sudah ada di wiki resmi Debian (https://wiki.debian.org/DebianTesting) namun ternyata setelah dijalani, tak semulus yg saya bayangkan. hehehe. Karena tidak mulus itulah, saya merasa perlu untuk menuliskan pengalaman saya, karena siapa tahu ada orang lain yg membutuhkan bantuan/mengalami kondisi yg sama.

Langkah pertama untuk upgrade adalah dengan mengubah isi dari: /etc/apt/sources.list dengan:

deb http://security.debian.org jessie/updates main contrib non-free
deb http://http.debian.net/debian/ jessie main contrib non-free

kemudian lakukan apt-get update && apt-get upgrade.

setelah melalui proses download yg cukup melelahkan dilanjutkan proses instalasi yg juga relatif lama (pengalamanku sekitar sejam), maka proses akan selesai dengan kondisi error. Jujur saya pribadi kurang paham kenapa bisa error. Saya sempat berpikir mungkin error karena ada file yg kurang saat download mengingat koneksi internet Indo yg rada lemot. saya ulangi lagi perintah update&upgrade di atas namun tetap error. Dalam kondisi 1/2 sadar (maklum jam 1 pagi) saya putuskan untuk mencoba direstart saja, siapa tahu ada beberapa bagian kernel atau apalah yg nyangkut karena masih terpakai. Yang bikin shock, setelah direstart, sesudah layar GRUB, blank black screen. 😦 esmosi, pingin banting laptop; untungnya sadar saya gk ada duit buat beli laptop baru jadi batal banting; lol. Karena sudah jam 2++ pagi, saya putuskan istirahat dulu.

Setelah tidur nyenyak, dalam kondisi otak yg fresh, saya dapat ide untuk melakukan proses seperti yg pernah saya lakukan dahulu saat memperbaiki GRUB yg crash (cara detailnya bisa dibaca pada blog ini pada judul yg lain).
Jadi, segera saja saya cari dvd live-linux. Ketemunya dvd: live-linux Ubuntu 14.04 (Trusty) . Yo wes rapopo. segera saya masukkan dan booting. Di dalam Ubuntu, saya segera melakukan:

sudo umount -a
sudo mount /dev/sda8 /mnt           (sda8 = posisi OS Debian pada hdd saya)sudo mount –bind /dev /mnt/dev
sudo mount –bind /sys/ /mnt/sys/
sudo mount –bind /proc/ /mnt/proc/
sudo chroot /mnt/
apt-get update && apt-get upgrade

Selesai melakukan semua di atas, saya masih mendapati sedikit sisa error. Jadi saya gunakan saja: apt-get autoremove && apt-get autoclean. Kemudian restart, booting kembali dengan hdd (bukan dvd).

Sukses! Berhasil masuk ke desktop. Tapi ntah kenapa saya merasa ada yg janggal. Maka saya coba jalankan beberapa prog yg sudah terinstall. Ternyata banyak yg gak jalan. 😦 Saya buka Pidgin (untungnya jalan) dan tanya-tanya ke para senior di IRC #Debian, gak ada yg bisa bantu. Akhirnya saya keingat bahwa masih ada sedikit error saat proses upgrade dan perkiraan saya yg error itu adalah GNOME-nya.
NB: saya instalasi awal Wheezy-nya pake paket live-dvd Debian with GNOME.

Maka refleks saja saya lakukan

apt-get purge gnome* && apt-get install kde-standard kde-plasma-desktop

Yup, perintah itu sangat kejam karena akan me-remove ratusan MB file-file yg berhubungan dengan gnome tanpa pandang bulu, padahal ada kemungkinan beberapa file masih akan dipakai nantinya. Tapi saya lebih memilih membersihkan semuanya dulu daripada banyak sampah di sistem baru saya. Dan setelah semua sukses terinstall, saya reboot, semua berjalan dengan normal. *happy ending* 😀

tambahan.. barusan saya coba ternyata virtualbox saya bermasalah, setelah diutek-utek sejam lebih akhirnya sadar kalo ternyata file header dari kernelnya tidak terinstal 😦 so, jgn lupa lakukan:

apt-get install linux-headers-$(uname -r)

NB:
– mungkin jika ada yg ingin mencoba, bisa dilakukan install ulang GNOME-nya. Tapi buat saya pribadi saya cukup menikmati KDE ini.
– semua perintah di atas lakukan dengan kondisi root
– kalo ada cara yg lebih praktis terhadap langkah-langkah di atas atau ada lagi error yg (mungkin) belum saya sadari, silahkan tulis di komentar yah.. thanks.. 😀

Mengatasi problem instalasi GRUB pada Kali (bisa juga dicoba pada Linux yg lain)

tested in: KALI 1.0.9a
1. boot dari live-cd, buka terminal:
2. # fdisk -l cari partisi yg sudah terinstall Kali: /dev/sda1, /dev/sda2, etc)
3. # mount /dev/sda1 /mnt (misal Kali terinstall pada: /dev/sda1)
4. # mount –bind /dev /mnt/dev
5. # mount –bind /sys/ /mnt/sys/
6. # mount –bind /proc/ /mnt/proc/
7. # chroot /mnt/
8. # apt-get install grub-pc grub2-common
9. # grub-install /dev/sda

NB: bisa jadi langkah 8 & 9 sudah pernah, jika sudah pernah skip saja ke 8a

8a. # grub-install –recheck /dev/sda (install grub in the HDD sda, not sda1, sda2, etc.., just sda.

10. # update-grub

11. lalu shutdown dan tes untuk booting langsung dengan menggunakan harddisk yg terinstall Kali

Selamat mencoba…
eboot & test the GRUB

Instalasi Linux Kali 1.0.6

Sebenarnya pada website official KALI (www.kali.org) sudah terdapat cara instalasinya yg cukup lengkap dengan disertai gambar-gambar. Namun saya pribadi mengalami sejumlah masalah saat mencoba melakukan instalasi Kali pada eksternal harddisk. Dan setelah melewati perjuangan yg memakan waktu hampir 12jam, akhirnya saat ini Kali sudah berhasil terinstal di hdd tersebut. Artikel ini saya tuliskan dengan harapan dapat membantu rekan-rekan yg mungkin menghadapi kasus serupa.

Berikut adalah spec yg saya gunakan:

–          PC dengan proc Intel I5 dan memory 4GB

–          Hdd eksternal 2TB (terdapat 3 partisi dengan format NTFS dan 1 partisi ext4 sebesar 45GB bekas Backtrack5 lengkap dengan SWAP location)

Kondisi instalasi yg saya harapkan:  full-instalation (bukan live linux) tanpa mengganggu 3 buah partisi NTFS tersebut karena pada ketiganya terdapat data backup yg relatif penting.

Seperti biasa yg saya lakukan setelah men-download file image Kali dan verifikasi SHA-1 adalah melakukan booting image Kali pada VMWARE. Saya biasa melakukan ini saat instalasi Backtrack dahulu dan selalu sukses tanpa ada masalah berarti. Namun ternyata kondisi saat ini sangat berbeda, instalasi gagal setelah berjalan sekitar 12%. Saya sudah mencoba mangulanginya sampai 3x dan ternyata tetap stuck di kisaran segitu. Tidak puas dengan error tersebut, saya berpikir ‘ah mungkin ada masalah dengan VMWAREnya, coba saja di-booting dari dvd’. Alhasil saya pun segera mem-burn image tersebut ke DVD. Sekali lagi saya mencoba melakukan instalasi, kali ini lebih mengenaskan, karena ternyata Kali dalam DVD tersebut kesulitan mendeteksi hardware saya. Setelah mencoba berbagai trik dan teknik, ditambah browsing sana sini (padahal dokumentasi Kali masih relatif sedikit sehingga saya mencoba mencari juga dokumentasi dari Debian), akhirnya saya menemukan cara menginstall-nya.

Langsung saja, berikut adalah step-step menginstall Kali (lakukan jika Anda tidak berhasil melakukan dengan cara yg dipaparkan pada official websitenya):

  1. Masukkan DVD live Kali, booting dengan DVD tersebut
  2. Pada menu depan Kali, pilih saja untuk booting ke dalam Live Linux-nya (pilihan pertama), jangan tekan ‘install’ ataupun ‘graphical install’
  3. Setelah masuk ke desktop Kali, hubungkan hdd eksternal atau apapun yg ingin diinstal dengan OS tersebut (NB: bahkan USB flashdisk pun bisa asal sizenya >=16GB)
  4. Buka shell dan gunakan GPARTED untuk MENGOSONGKAN partisi yg menjadi tujuan instalasi. Ingat, DIHAPUS, bukan diformat apalagi disetting dengan format ext4. Setelah itu lakukan REBOOT dan kembali ke step 1-3 lalu ke step 5.
  5. Setelah langkah 4, buka ‘Application’ > ‘System Tools’ > ‘install linux kali’
  6. Ikuti terus menu yg ada, setting saja sesuai keinginan, hingga akhirnya masuk ke menu disk partition. Pada bagian ini (jika tadi step 4 dijalankan dengan baik) seharusnya akan ada pilihan pertama dengan kata ‘largest continous…’. Pilih pilihan tersebut.

Jika tidak ada pilihan tersebut, pilih ‘manual’, lalu pada hdd yg Anda inginkan lakukan seperti pada step 4. Setelah itu tidak perlu reboot, cukup tekan ‘esc’ dan pilih ulang menu ‘disk partition’, maka semestinya akan keluar pilihan ‘largest continous..’.

7.  Lanjutkan instalasi pada partisi yg dipilih. Tunggu kira-kira 15-30menit tergantung kecepatan sistem komputer Anda; Hingga kemudian muncul error instalasi GRUB. Langkah ini terdengar agak lucu, namun tak ada yg bisa kita lakukan selain: pilih ‘install…’. Maka instalasi linux diulangi lagi/re-install. Peringatan: jangan sekali-sekali memilih ‘exit installation’.

Saya pribadi juga agak sebal dengan ini, karena berarti harus menunggu lagi. Dan saya belum menemukan solusi yg lain atas masalah ini. Mungkin jika ada yg menemukan solusi baru bisa memberitahukan lewat komentar.

8.  Setelah melakukan step 7 dan menunggu lagi, mestinya kali ini tidak ada masalah dalam instalasi GRUB. Sekedar info: sebaiknya GRUB diinstal pada MBR dari hdd yg ingin booting linux. Contoh: pada PC saya terdapat internal hdd berisi win7 (terdeteksi pada Kali sebagai sda) namun saya ingin bisa booting dari eksternal hdd pada PC manapun, karenanya saya install GRUB pada MBR dari hdd eksternal saya (pada Kali dideteksi sebagai sdb)

9.  Setelah instalasi GRUB, proses instalasi akan berlanjut sedikit lagi hingga akhirnya stuck pada layar ‘finishing’. Coba saja ditunggu 15menit. Jika tetap tidak ada perubahan atau tetap stuck di situ, tekan saja alt+ctrl+F1 lalu ketik ‘poweroff’ dan ‘enter’

10.  Cobalah booting dengan menggunakan hdd yg terinstall Kali, seharusnya akan muncul GRUB Loader dan sudah bisa booting Kali dengan lancar

Demikian proses instalasi Linux Kali yg saya lakukan. Jika ada rekan-rekan yg ingin memberikan usulan ataupun pertanyaan silahkan mengisi pada komentar. Semoga artikel ini dapat berguna.

Pesan terakhir: Do only Ethical hacking, not a crime. 🙂