Testing ASUS ultrabook K401LB on Linux Debian Family

Beberapa hari terakhir saya cukup disibukkan dengan ‘mainan’ baru saya. hehehe. Sebenarnya saya sudah lama mengimpikan memiliki sebuah ultrabook yg notabene ringan dengan daya tahan baterai yg cukup panjang (>4jam) karena akan sangat berguna dalam pekerjaan, namun apa daya harga ultrabook di sini sama dengan harga sepeda motor. *sad*

Syukurlah akhirnya Asus me-launching ultrabook dengan harga yg relatif murah. ASUS K401LB ( spec ). Dan bagi saya pribadi, device kosongan / tanpa OS saat pembelian itu lebih menarik karena saya bisa bereksperimen lebih. hehehe. Jadilah saya mencoba meng-install Debian 8 (Jessie) ke ultrabook ini.

Sebelum bercerita lebih panjang mengenai kondisinya sesudah terinstall linux, saya ingin bercerita sedikit mengenai kesan saya pada hardware dari ultrabook ini. Secara fisik terlihat besar/lebar namun sangat ringan jika dibandingkan laptop lama saya (HP G32). Dan yg tak kalah menakjubkan adalah body-nya yg terbalut aluminium/metal, sehingga terasa dingin jika ditinggalkan dalam rungan ber-AC. Sayangnya, entah kenapa, ventilasi/saluran udara/fan output nya terletak tepat di bawah keyboard. Jujur hal ini membuat saya agak sedikit ragu dengan daya tahannya, kuatir overheat gitu. Namun setelah pemakaian >5 jam non-stop, saat dipegang tidak ada rasa panas yg berarti di bagian manapun. Posisi speaker yg juga berada di bagian bawah (samping kiri-kanan dari ventilasi tadi) juga sempat membuat saya mengernyitkan dahi karena laptop-laptop yg biasa saya lihat speaker-nya kan di atas keyboard – bawah monitor. Syukurlah suara yg dihasilkan tak terlalu buruk walaupun menurut saya pribadi agak aneh suaranya (mungkin saja karena pakai linux & tidak ada driver resmi Sonic Master untuk linux).

Problem yg saya lihat dari segi hardware adalah tombol tab yg setelah ditekan tidak kembali. Shock. Tapi setelah saya tunggu beberapa saat, dia kembali sendiri. Jadi saya coba tekan berkali-kali. Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya bisa berjalan (relatif) normal, dalam artian setelah ditekan bisa kembali hanya saja saat ditekan berasa agak aneh seperti bunyi ‘klik’ agak lebih keras jika dibanding tombol-tombol lain. Dan bunyi ‘klik’ ini juga terjadi pada tombol-tombol lain di bawahnya, yakni: caps lock dan left shift. Apakah cacat produk??

Oke sekarang saya akan bahas tentang instalasi linux-nya. Untuk tahap awal saya menggunakan dvd Debian Live 8.0 KDE. Proses instalasi (tanpa UEFI) berjalan dengan smooth, satu-satunya warning yg tampil hanyalah tidak adanya firmware untuk Realtek, tapi saya pilih skip saja. Booting dengan Jessie dari harddisk pun berjalan lancar.Berikut beberapa problem yg terjadi:
– tombol fn nyaris tidak berfungsi sama sekali. Yg jalan hanya fn+F1 yg berfungsi sleep, tapi si Jessie agak bermasalah dengan proses sleep ini (ada infonya di mailist Debian) dan fn+F7 untuk mematikan layar.
– fn+print screen masih jalan.
– fn+F11 & fn+F12 hanya jalan jika kita memutar lewat aplikasi, tapi tidak berfungsi jika memainkan film di youtube.
semua ‘error’ tersebut di atas tetap terjadi meskipun setting input sudah diubah ke ASUS keyboard.
– saat dicoba logout, yg terjadi malah hang, gak bisa lagi shutdown ataupun restart lewat GUI, tapi masih bisa lewat konsole.
– VGA NVIDIA tidak terdeteksi

Dalam keadaan capek sekaligus sebel, akhirnya saya putuskan untuk pindah ke Kubuntu, dengan pertimbangan: kernel lebih baru yg tentunya men-support lebih banyak hardware baru, pengguna Ubuntu lebih banyak daripada Debian sehingga akan memudahkan saya mencari bantuan, sudah terbiasa dengan Debian-based dan terakhir karena saya lebih terbiasa dengan tampilan KDE daripada GNOME (hehehe…).

Setelah download installer Kubuntu sekitar sejam-an dan dilanjut menunggu sekitar 30 menit untuk instalasi-nya, akhirnya saya bisa booting dengan Kubuntu. Dan respon pertama saya adalah kaget; Kaget karena ternyata si Kubuntu langsung memberitahukan ada security patch relatif besar yg perlu di-download plus harus download driver tambahan untuk NVIDIA-nya. Buat saya ini cukup amazing karena biasanya saya harus mendeteksi hardware secara manual.

Setelah semua proses update dan instalasi selesai. Berikut adalah problem yg masih terlihat sesudah menggunakan Kubuntu:
– tombol fn+F5 & fn+F6 untuk kontrol brightness dan fn+F2 untuk flight mode masih tetap tidak jalan.
– ada beberapa tulisan error saat proses booting (saya kurang paham apa yg error) namun tetap bisa booting, login dan berjalan dengan baik.

Sekian dulu dari saya, semoga membantu teman-teman yg mungkin ingin mencoba device yg sama.
Beberapa hal yg belum sempat dicoba seperti HDMI port (jika ada problem) nanti akan saya tambahkan lagi di artikel ini. Jika ada teman-teman yg bisa membantu memperbaiki problem yg masih tersisa di atas, mohon bantuannya untuk menuliskan di komentar.
Terima kasih.

UPDATE (8 Mei 2016):
Kubuntu sudah upgrade ke versi 16.04. Semua problem di atas (pada special keys) tetap terjadi.
Selain itu sudah beberapa kali saya coba jika maduk ke sleep/hibernate pasti akan problem saat relogin. Jadi sangat tidak disarankan untuk melakukan sleep/hibernate.
Pada Kubuntu ver 16.04 ini juga saya temukan problem jika menggunakan login guest. Problemnya adalah permintaan password saat re-login sedangkan guest ini tidak ada default password nya. Kondisi re-login dapat terjadi jika tidak ada aktifitas selama beberapa menit (saya belum menemukan lokasi setting untuk mematikan fitur ini).

Tentang secondary screen
Saya pribadi menggunakan laptop ini untuk bekerja dan tentunya akan ada saat dimana perlu mempresentasikan sesuatu sehingga laptop harus dicolok ke layar lain ataupun LCD proyektor. Untuk mengatasi hal ini (tidak adanya VGA port), ada 2 solusi yg dimungkinkan:
1. USB to VGA
Percobaan saya sejauh ini dengan menggunakan beberapa sambungan yg ada di toko-toko komputer di Marina Plaza gagal total. Si Kubuntu tidak bisa mendeteksi kehadiran perangkat tersebut.
2. HDMI to VGA
Pada Kubuntu ver 14, perangkat ini agak lambat proses deteksinya dan harus direstart beberapa kali.
Pada Kubuntu 16.04, proses berjalan dengan sangat smooth tapi butuh sedikit trik untuk melakukannya. Caranya: biarkan laptop booting dulu hingga tsmpilan desktop baru kemudian tancapkan konektor HDMI-VGA nya, setelah konektor terdeteksi barulah tancapkan kabel VGA nya. Sejauh ini yg saya temukan problem yg muncul hanyalah masalah resolusi, resolusi HD pada laptop ini tentu saja tidak dapat disupport oleh sebagian besar proyektor yg ada sehingga perlu kita turunkan resolusinya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s