Doa Sang Boneka Beruang

“Sudahlah Anna, lupakan saja dia. Orang kayak gitu ngapain kamu tangisi, cari saja yg lain, yg lebih baik, yg bener-bener cinta sama kamu.”

“Tapi ma..”, terdengar Anna menyahut sambil sesenggukan. Kedua pipinya yg chubby, dibasahi oleh air mata.

“Tapi..tapi..tapi.. Mau sampai kapan kau begini? Kalau memang buat dia terlalu berat untuk menengok mu di hari ulang tahunmu, apa itu namanya cinta?”, sahut mama dengan nada kesal.

Aku hanya bisa terdiam memandang adegan trenyuh di depanku. Diam. Dan sebenarnya memang hanya itu yg bisa kulakukan.

Aku terkejut. Tiba-tiba saja sepasang tangan yg lembut memelukku, kemudian mengangkat dan mendudukkanku di pangkuannya. ‘Anna’, teriakku dalam hati. Ntah sejak kapan, Anna tiba-tiba sudah duduk di dekatku, di samping kasur empuk yg menjadi tempatku sehari-hari.

“Hai, bear. Cuma kamu yg bisa pahami aku.”, suara Anna lirih di telingaku. ”Kamu sahabatku, bear. Kau masih ingat dia? Dia yg biasa bersamaku; tertawa bersama, makan bersama, jalan-jalan. Dia.. dia..”. Air mata Anna tanpa sadar membasahi wajahku, yah aku memang ingin menangis bersamamu princess Anna, tapi apa dayaku. Ah, setidaknya, sekarang aku nampak menangis bersamamu.

Aku terus berada di sana, dalam dekapan Anna. Sejak ia duduk di samping kasur empuknya, hingga berbaring dan terlelap. Ya, setiap katanya kudengarkan dengan baik, bahkan setiap kata yg mungkin tak terucap oleh bibir kecilnya; hanya bisikan dalam gerakan dan air mata.

Orang yg paling diharapkan oleh Anna, sosok yg sangat dikasihinya, akan melanjutkan study di luar negeri. Dan yg membuat Anna begitu sedih adalah karena pria itu memilih untuk tidak hadir sama sekali di rumah Anna tepat di hari ulang tahunnya. Yg lebih menyakiti Anna adalah ketidakhadiran itu karena dilarang oleh sang mama yg kuatir anaknya membatalkan keberangkatannya demi cinta.

Hari itu berlalu dalam suasana yg terus kelabu. Hari-hari Anna pun tampak agak murung, hingga akhirnya dia membulatkan tekad, meninggalkan pria yg tengah sibuk dengan study-nya di luar negeri. Dan aku, seperti biasa, menemani Anna dengan duduk diam mendengarkan kisah-kisahnya.


Tepat 2 Tahun telah berlalu, dan hari ini, di hari ulang tahun Anna, aku teringat kembali kisah itu. Hari di mana aku ikut menangis bersama Anna. Hari di mana Anna menyebutku sebagai sahabatnya yg paling berharga.

Anna terlihat sibuk sekali. Dengan senyuman dan semangat, ia menjalani harinya yg penuh aktifitas. Jujur, aku gembira melihatmu seperti itu, princess Anna. Namun, tahukah kau, bahwa aku rindu sekali, rindu untuk duduk dan mendengarkanmu bercerita. Tertawa bersamamu. Menangis bersamamu. Dalam pelukanmu.

Tapi… ah, sudahlah.. siapa aku.. hanya seonggok boneka yg toh nanti juga akan kau peluk kembali; saat engkau butuh. Setidaknya, saat ini kau gembira dan itu cukup buatku..

Selamat Ulang Tahun, princess Anna.. Doaku, semoga kau selalu bahagia..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s