Catatan Harian Si Bos: Menyiapkan Bibit Unggul

“Jadi cerita seperti apa yg ingin kau dengar dariku Jon?” Suara itu membuyarkan lamunanku.
“Eh, ini ko, aku dapat tugas dari sekolah untuk menulis lika-liku kehidupan seorang pebisnis. Tau nih, ngerepoti aja pak guru sialan itu.”, sahutku dengan sedikit dongkol. Yah, aku kesal dengan tugas aneh yg diberikan guru ekonomiku, dia minta kami mewawancarai seorang pebisnis lalu menulis buku tentang kewirausahaan.
Ko Tio tertawa kecil melihatku dongkol. “Memangnya guru ekonomimu siapa Jon? Pak Anto?”, sahutnya.
“Ya siapa lagi ko kalau bukan si tua belagu itu?!”, sahutku dengan kesal, “guru ekonomi kelas lain gak ada yg ngasih tugas bikin makalah gitu. Yg lain paling cuma ngerangkum buku. Gampang itu. Lha kelasku, apes, kena si belagu….”
“Sudah-sudah, jangan memakinya lagi.”, potong ko Tio. “Nih minum”, sahutnya sambil memberikan secangkir teh hangat.
“Hmm.. apa cita-cita mu Jon?” Tanya ko Tio tiba-tiba.
Aku terdiam. Pikiranku lari ke mana-mana. Waktu kecil aku ingin jadi polisi karena polisi itu keren bisa menangkap penjahat, bawa pistol, dsb. Tapi setelah aku dengar ada polisi yg tewas tertembak saat mengejar penjahat, aku mulai mengubah cita-citaku. Rasanya lebih baik jadi jaksa saja, dengan begitu aku bisa menegakkan hukum tanpa perlu tembak-tembakan. Namun semenjak masuk bangku SMU, dan melihat teman-temanku yg bawa mobil ayahnya, aku jadi ingin seperti ayah mereka, jadi pengusaha yg kaya raya.
“Aku mau jadi pengusaha ko”, jawabku dengan suara kecil. Yah aku memang tak terlalu yakin dengan ini.
“Hmmm.. seperti papa mu?”, tanya ko Tio sambil mendorong sekaleng kue ke hadapanku.
“Nooo!!”, seruku.
Ko Tio kaget, mengernyitkan dahinya,”kalo gak mau kue gk usa teriak gitu lah, bikin kaget saja”.
“Eh, sorry ko, sorry banget, bukan maksudku gitu. Aku cuma emosi kalau ada yg ngungkit soal usaha papa.”
Ko Tio hanya diam.
“Aku gak mau kayak dia. Buka toko, tiap hari di toko. Tiap menit yg dipikiri cuma toko, toko, dan toko. Aku maunya jadi pengusaha yg kaya, punya uang banyak, hidup santai. Bisa liburan ke luar negeri. Yah, gitulah..”
Lagi-lagi ko Tio hanya terdiam. Aku pun memilih untuk diam dan memandanginya, menunggunya untuk berkata sesuatu sambil mengunyah kue kering.
Ntah berapa lama kami saling diam, mungkin sekitar semenit, sebelum akhirnya dia berkata “tunggu di sini sebentar.” Aku pun mematuhinya.
Aku masih asyik dengan kue kering dan teh di hadapanku ketika ko Tio kembali sambil membawa 2 buah gelas dan sebuah teko air.
“Ko, teh nya masih ada,” celetukku.
“Tenang, ini bukan untuk diminum, kita akan main sebentar,” sahutnya sambil tersenyum kecil, “coba kau perhatikan baik-baik kedua gelas ini.”
Kuperhatikan baik-baik kedua gelas itu. Keduanya nampak sama persis, hanya saja salah satu gelas berisi 1/2, yg satunya kosong sama sekali.
“Menurutmu, di antara kedua gelas ini yg mana yg bisa diisi lebih banyak air sirop?” Tanyanya seraya mengangkat teko yg rupanya berisi air sirop merah dan mulai menuangnya perlahan pada kedua gelas itu bergantian.
Aku tertawa. “Jangan bercanda ko, sudah jelas lah, yg kosong pasti muat lebih banyak. Anak kecil juga tau itu,” sahutku.
“Betul sekali, semua orang tahu itu, tapi tak semua orang sungguh-sungguh memahaminya.”
Aku langsung mengernyitkan dahi, mencoba menebak maksudnya.
“Saat ini dalam benakmu penuh berisi hukum-hukum ekonomi, pengetahuan tentang uang, bisnis, usaha, kekayaan, dsb. Betul atau betul?”
Aku menganggukkan kepala perlahan.
“Takkan banyak hal yg bisa kau pahami saat ini. Apapun yg akan kuceritakan padamu, kau hanya akan mendengarnya seolah mendengar mitos atau cerita dongeng. Percuma.. saranku.. kau pulanglah dulu dan kosongkan pemikiranmu itu. Kembalilah lagi setelah itu..”
Aku benar-benar melongo dibuatnya. “Eh, ko, ini aku harus nulis buat tugas makalah..”
“Kapan deadline pengumpulannya?” Tanya ko Tio memotong kalimatku.
“Awal bulan depan sih.”jawabku dengan enggan.
“Gini Jon, menurutku jauh lebih penting membantumu mencapai cita-citamu itu daripada sekedar menyelesaikan makalah, tapi tenang aja makalahnya juga pasti selesai kok. Setuju?”
“Serius?! Ko Tio mau mengajariku untuk jadi pengusaha sukses seperti koko?” Tanyaku dengan terkejut sekaligus gembira.
“Asal kau mau sungguh-sungguh belajar dan menuruti kata-kataku”, sahutnya sambil tersenyum dan menepuk bahuku.
“Deal!!” Sahutku senang.
“Good, pulanglah sekarang.. dan jangan lupa kerjakan tugas pertama dariku tadi. Forget those things.”
“Oke, besok siang aku ke sini lagi deh. See yaaa!”sahutku sambil berlari pulang dengan gembira.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s