Cinta??? (Menginjak Mawar)

“Anto, sini sebentar”, terdengar suara seorang wanita memanggilku. Aku pun menghentikan langkahku dan menoleh. Nampak kak Angel melambaikan tangan memanggilku.
“To, kau lagi sibukkah? Bolehkah kakak ngobrol sebentar denganmu?”, tanya kak Angel setelah aku duduk di sampingnya.
“Emmm, ada apa ya kak?”, tanyaku.
“Ini tentang Nelia”, sahutnya.
Sejenak aku tertegun. Nelia, gadis cantik itu, beberapa hari terakhir terasa sangat aneh. Tepatnya sejak acara kepanitiaan lomba HMT selesai, dia seakan menjauhiku. Aku pernah coba tanya padanya, tapi dia mengelak. Dan sekarang… ada apa ini?
“To, apa yg sudah kau lakukan pada Nelia?”, tanya kak Angel membuyarkan lamunanku.
“Loh aku gak ngapa-ngapain dia. Akhir-akhir ini malah aku gak sempat ngobrol dengannya.”, sahutku gugup, sambil mencoba mengira-ngira kesalahan apa yg kubuat pada Nelia.
Kak angel hanya tersenyum, sepertinya dia menyadari keresahanku. “Coba kau ingat-ingat lagi”, lanjutnya dengan nada lebih lembut.
Aku terdiam, merenung, aku tak tahu apa salahku. Tapi aku benar-benar tak suka keadaan ini, aku tak suka Nelia menjauhiku, dan semoga kak Angel bisa menolongku. Yah, kak Angel lah satu-satunya orang yg bisa menolongku karena dia dekat dengan Nelia. Kak Angel adalah kakak kelas sekaligus mentor bagi aku dan Nelia. Dialah yg selama ini mengajari aku dan Nelia tentang banyak hal, baik itu masalah perkuliahan ataupun kehidupan sehari-hari.
“Maaf kak, aku tau ada yg salah, masalahnya aku tak tau apa itu.”, sahutku.
“Hahahaha, Anto, kalo gitu aku kembalikan deh kalimatmu, salahmu adalah kau tak tau apa salahmu.”, sahutnya.
Mendengar itu, aku langsung teringat sesuatu, aku sadar betapa aku telah menyakiti Nelia.

Kejadian ini terjadi beberapa minggu yg lalu, sebelum acara lomba HMT. Situasi saat itu memang tak terlalu baik, kami para panitia lomba diserbu masalah yg seakan tak ada habis-habisnya. Mulai dari kurangnya sponsor, kurangnya dana, hingga kurangnya peserta. Dan jujur saja, sebagai ketua panitia aku-lah yg paling stres. Aku tak mau acara ini gagal, ini kepanitiaan pertamaku; pertama kalinya aku jadi ketua; apa kata orang-orang kalau sampai acara ini gagal. Tekanan itu membuatku, tanpa sadar, menjadi pemimpin yg otoriter bin sadis. Dan lebih sedihnya, aku juga melukai Nelia.
“Nelia! Maju ke depan!”, bentakku dengan emosi. Ruangan rapat menjadi hening, semua mata menatap Nelia dengan bingung. Nelia pun perlahan berdiri dari tempatnya, maju ke sampingku.
“Ya, To?”, tanyanya perlahan.
“Kamu tau apa salahmu?!”, tanyaku dengan nada kasar.
Nelia mengernyitkan dahinya, berpikir, lalu menggelengkan kepalanya tanda tak mengerti. Dan karena lagi emosi dan tertekan dengan kondisi yg ada, tanpa basa-basi lagi, aku berdiri dari tempatku dan langsung menyemprot Nelia dengan kalimat-kalimatku yg kejam.
“Salahmu yg pertama, kamu gak tau apa salahmu.”
“Salahmu yg kedua, itu sie materi belum selesai kerjaannya”
“Salahmu yg ketiga, itu anak-anak di bawahmu absensinya paling banyak”
Nelia ingin membuka mulutnya untuk mengucapkan sesuatu, namun seakan semua kata tertahan, dia tak jadi mengucapkan apapun hanya menundukkan kepalanya.
“Masih belum selesai.”, lanjutku dengan nada mengejek, “kamu tadi juga tiduran di meja saat rapat. Apa-apaan kamu ini?!”. Brakkk!! Gebrakan meja dengan tanganku membuat semua panitia semakin tegang.
Nelia mengangkat kepalanya, terdiam sejenak. Suasana ruangan masih tetap hening dan tegang.
“Maaf..”, ucap Nelia perlahan.
“Bilang apa kamu tadi? Yg keras kalo ngomong.”, lanjutku dengan kasar.
“Maaf.. aku.. aku akan bereskan semuanya”, katanya sambil kembali menunduk.
“Ya sudah, sana, bereskan dengan tim mu, aku gak mau ada yg miss”, balasku sambil duduk kembali.

“Nggak pantes kamu lakukan yg kayak gitu ke Nelia. Pada siapaun juga gak boleh.”, kata kak Angel membawaku kembali ke dunia nyata.
“Coba deh kamu pikir lagi. Mestinya masih banyak kan cara yg lebih halus untuk menegur dia?!”, lanjut kak Angel.
Aku hanya terdiam lalu menganggukkan kepala tanda setuju.
“Itu ada Nelia, kamu minta maaf sama dia.”, sambung kak Angel sambil menunjuk sesuatu di belakangku.
Aku menoleh ke arah yg ditunjuk kak Angel. Nelia memandangi kami dari atas tangga, sepertinya dia tahu apa yg sedang kuperbincangkan dengan kak Angel. Aku ingin sekali minta maaf padanya, namun ego ku seakan menahanku, aku sama sekali tak bergerak dari tempat dudukku.
“Nel, sini..”, panggil kak Angel dengan lembut sambil melambaikan tangan pada Nelia. Nelia pun perlahan dan duduk di samping kak Angel.
“To, tadi kamu mau bilang apa sama Nelia?”, pancing kak Angel.
“Nel, aku.. aku..”. Rasanya sulit sekali mengatakannya. “maaf, aku sudah kasar padamu…”, lanjutku lirih sambil mengulurkan tangan dan berharap dia menerimanya.
Nelia tersenyum lalu menjabat tanganku sambil bilang “iya To, sama-sama, aku juga ada salah. Maaf ya..”
Aku tersenyum menatap Nelia. Semua rasa bercampur jadi satu; senang dia memaafkanku, malu karena berani melukai orang yg kusukai, marah karena egoku terluka, sedih karena aku sadar hubungan kami gak akan pernah sama seperti dulu lagi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s