Galau..

Anto terdiam. Pikirannya kacau, berbagai perasaan bergumul dalam hatinya.
Dari handphone ditangannya, terdengar suara yang lembut, ya suara seorang wanita. “Kau kenapa sih to?”
“Aku tak apa.. mungkin kebanyakan nonton sinetron jadi galau.”, sahut Anto sekenanya.
“Ah kau ini, gak biasanya kan kau melo gitu”, sahut wanita itu diiringi tawa kecil
“yah, mungkin kau lupa kalau aku ni melankolis.”
Suara tawa kecil menyambut ucapan Anto, “jangan gini dong, gak kayak Anto yg biasanya ah”, sahut wanita itu dengan nada manja.
Anto terdiam beberapa saat. Kebimbangan merasuk makin dalam di hatinya. Ingin sekali dia menyatakan betapa kecewanya dia pada wanita itu, namun.. ‘ah ini bukan salah dia, ini salahku sendiri, kenapa aku memilih menyukainya…’ bisik Anto dalam hatinya.
“Aku tak apa, kau kembalilah ke duniamu.”, sahut Anto perlahan. Dalam hati, Anto masih berharap wanita yang paling Anto anggap penting kedua setelah ibunya itu segera sadar.
“kembali ke duniaku? apa maksudmu?”
Anto kembali terdiam. Pikirannya berputar mencari kata-kata yang halus untuk menyatakan kekecewaannya. Yah, Anto benar-benar tak ingin melukai wanita itu.
“kau kan sibuk…”, Anto tak melanjutkan kalimatnya, dia hanya bisa berharap; berharap pendengarnya introspeksi diri.
Terdengar suara tawa si wanita, ntah apa maksudnya, mungkin dia merasa tersindir atau mungkin juga dia menganggap Anto lucu. “ah, ya sudahlah, aku ngantuk. Kau gak tidur to?”, lanjut si wanita.
“sebentar lagi.”, balas Anto,”byee..”.
Anto meletakkan handphonenya di atas meja kecil samping ranjang. Pikirannya tak henti melayang. Ia masih mencoba meyakinkan dirinya, bahwa bukan maksud hati si wanita untuk menjauhinya melainkan wanita itu benar-benar sibuk. Namun pikiran yang lain sekonyong-konyong muncul, wanita itu pernah bercerita pada Anto bagaimana trik yang biasa diapakainya untuk menjauhi para pria yang mengejarnya, yah.. wanita itu biasa berpura-pura sibuk.
Waktu terus berjalan. Jarum jam menunjukkan pukul 3 pagi. Anto masih di tempatnya, berbaring di atas tempat tidur, tapi masih tetap terjaga. Pikirannya menjelajah kian jauh, kali ini ke masa lalu. Dia ingat benar, wanita itulah satu-satunya orang yang pernah memberikan kue tart di hari ulang tahunnya. Dia juga ingat bagaimana wanita itu dengan lugunya memberi oleh-oleh gantungan kunci setelah berlibur ke luar pulau. ‘dinner with my besties’, begitulah status blackberry wanita itu ketika makan malam bersama Anto dan seorang teman wanita yg lain.
Anto mengulurkan tangannya, mengambil kembali handphone di atas meja, diputarnya lagu rohani favoritnya. Anto memandangi handphonenya, tampak foto wanita cantik itu dengan beberapa pose lucu di sana. Anto pun tersenyum kecil memperhatikannya, ia mengenang bagaimana ia mendapatkan foto-foto itu.
“Tuhan, kenapa harus begini lagi? Tidakkah Kau ingin memberikan ijin untuk aku boleh bersamanya?”, gumam Anto. “Apa yg harus kubuat sekarang? Haruskah kutetap berpura-pura tak tahu seperti biasanya? Sudah 2 minggu lebih dia begitu. Telponku tak diangkatnya, pesanku dibiarkan berjam-jam baru dibalas.” Anto menghela napas panjang. “Apa yang harus kubuat ya Tuhan?”.
Tiba-tiba sebuah suara muncul dalam benaknya. “loh, katanya sudah gak bisa mati lagi, kok sekarang malah main sekarat-sekaratan?”, tegur suara itu. Seketika Anto tersenyum, dia teringat ucapannya sendiri beberapa tahun lalu. “Hari ini aku mati dan bangkit, gak ada orang yg mati 2x, karena itu apapun yg terjadi, sesakit apapun ditinggalkan orang yg kukasihi, atau kehilangan apapun, aku takkan terpengaruh.”, begitulah ikrar Anto.
Anto pun beringsut turun dari ranjangnya, sambil belutut disamping ranjang, ia berbisik, “Tuhan, Engkau tahu betapa kacaunya perasaanku saat ini. Engkau tahu apa yg kupikirkan.. dan.. dan.. aku tak tahu lagi apa yg perlu kuminta dariMu. Aku.. Aku.. hanya ingin berdoa untuknya. Engkau tahu persis bagaimana aku menyayanginya, dan aku pun tahu Kau jauh lebih menyayanginya, karena itu aku sangat yakin Kau akan kabulkan permohonanku untuknya. Tuhan, tolong jagai dia, berkati dia dengan segala yang terbaik yang Kau miliki. Peganglah tangannya, buat dia berhasil dalam sgala hal sehingga ia bisa mempermuliakanMu. Dan di atas segalanya, biarlah dia selalu mengingatMu dan melekat padaMu.”
Pikiran Anto menjadi lebih tenang sekarang, namun dia masih belum beranjak dari tempatnya. Setelah menghela nafas panjang, dia melanjutkan, “tentang hubunganku dengannya, aku serahkan ke dalam tanganMu saja Tuhan. KehendakMu yg jadi, bukan kehendakku. Tapi tolong tetap pegang tanganku selama masa-masa ini. Aku percaya Kau punya rencana yg indah, untuk dia dan aku. Amin.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s