Kupu-kupu yg Prematur

Suatu hari ketika seorang gadis kecil tengah bermain-main di halaman belakang ia melihat sebuah kepompong bergelayut di antara tangkai bunga. Kepompong itu terlihat bergerak-gerak,seakan sesuatu di dalamnya berusaha keluar. Si gadis kecil terus mengamati, dan perlahan dia melihat kepompong itu mulai terbuka. Dari lubang kecil pada kepompong itu nampak makhluk kecil yg bergerak-gerak. Penasaran dgn apa yg dilihatnya,si gadis kecil segera berlari ke dalam rumah&mengambil gunting kecil. Ia ingin menolong makhluk kecil tak berdaya yg terperangkap dalam kepompong itu. Dengan hati-hati, si gadis kecil mulai memotong dinding kepompong itu lalu mengeluarkan makhluk kecil di dalamnya. Nampak seekor kupu-kupu dengan sayapnya yg lusuh berjalan tertatih-tatih di atas tanah. Si kupu-kupu mencoba untuk terbang,namun kembali terjatuh. Rupanya sayap-sayap kecil kupu-kupu itu tidak cukup kuat untuk terbang.

Kisah di atas adalah sebuah kisah klasik yg mungkin seringkali kita dengar. Namun sadar atau tidak, seringkali pula kita masih mengulangi kisah itu dalam hidup kita sehari-hari. Kita (terlalu) mengasihi mungkin anak didik kita, anak kandung kita, sahabat, atau siapapun itu; kita senantiasa hadir ketika dia dalam kesulitan, menolongnya tanpa pamrih; namun tanpa sadar kita melumpuhkannya. Membuatnya bergantung sepenuhnya pada kita.

Dalam kehidupan, seringkali yg membuat seseorang menjadi hebat adalah kesulitan/masalah. Pepatah kuno mengatakan: laut yg tenang takkan melahirkan pelaut yg ulung. Dalam proses menghadapi masalah itu, seringkali kita butuh orang lain, ntah itu hanya sekadar menasihati,atau bahkan membantu secara langsung. Sebenarnya itu adalah hal yg baik, karena bagaimanapun manusia adalah makhluk sosial yg selalu membutuhkan orang lain. Namun apa jadinya ketika seseorang selalu sukses menghadapi masalah dengan pertolongan orang lain? Kemampuannya perlahan akan mulai tumpul, kemampuan problem solving-nya pun melemah, dan akhirnya dia akan jadi bergantung pada orang lain. Seperti kupu-kupu yg lahir prematur.

Sebagai guru, mentor, orang tua, ataupun sahabat, sebenarnya kita berada dalam posisi yg cukup rumit sekaligus menentukan dalam proses perkembangan orang yg kita kasihi. Di satu sisi kita harus mengasihi dengan memberikan perhatian yg cukup termasuk di dalamnya membantu saat ada masalah. Namun di sisi lain kita harus memastikan bahwa orang yg kita kasihi menghadapi masalahnya sendiri dan belajar dari sana hingga ia bertumbuh. Dua sisi inilah yg harus kita mainkan dengan baik. Terlalu ‘memanjakan’ akan mengakibatkan kelumpuhan, namun terlalu ‘membiarkan’ juga akan menyebabkan kasih&peran kita dipertanyakan.

Iklan

3 pemikiran pada “Kupu-kupu yg Prematur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s