Who is the boss?

Suatu kali saya mendengar sebuah kisah yg lucu namun menarik utk dipelajari. Kisahnya, ada sebuah keluarga yg tengah asik menikmati durian di tempat umum. Keluarga ini terdiri dari suami-istri dan seorang balita yg berusia kurang dari setahun. Melihat kedua orang tuanya asik makan sesuatu si balita yg baru belajar jalan merangkak mendekat,ingin ikut menikmati. Mungkin karena kasihan, si ibu mencolek sedikit durian itu lalu dimasukkan ke mulut anaknya. Mencicipi rasa durian yg, mungkin unik buatnya, si balita ingin merasakan lagi. Maka kembali ia bergerak2 minta durian. Ibunya yg merasa terganggu kenikmatannya mengambil secolek lagi dan menyuapkan ke mulut anaknya. Untuk kesekian kalinya si balita minta disuapi durian lagi. Kali ini si ibu enggan memberikan, mungkin juga si ibu memikirkan bahaya durian utk kesehatan balita. Apa yg terjadi? Si balita yg awalnya hanya bergerak2 ingin mendekati durian kali ini langsung duduk lalu menjerit sekeras2nya.

Yah,bukankah hal seperti ini yg seringkali jg kita lakukan pada Bapa kita di Sorga. Kita minta apa yg kita mau, Bapa mungkin sedang berpikir atau mungkin juga menolak demi kebaikan kita, namun kita langsung berteriak. Minta diperhatikan, minta dituruti. Kita seperti bayi-bayi rohani yg tidak mau tahu apapun selain keinginan kita sendiri.

Di tengah-tengah komunitas/komsel pun, bayi2 ini akan cenderung meminta dan menuntut. Minta diperhatikan. Minta dilayani. Bahkan mungkin ngambek dan mogok komsel ketika merasa tidak mendapat sesuatu di komsel. Yg kasihan tentu saja ‘para orang tua’ yg berusaha mengelola komsel itu dengan baik, jadi repot mengurusi balita2 rohani ini. Diajak bergerak susahnya amit2. Jangankan memuridkan, bisa komitmen hadir komsel dan memperhatikan saudara2 sekomsel saja susahnya sekali. Efeknya jelas, komsel itu jd stagnan. Bisa2 ‘para tetua’nya yg depresi sendiri.

Kita sama2 percaya bahwa tidak ada hal yg terjadi secara kebetulan, karenanya kalau detik ini kita membaca artikel ini dan merasa tertegur,mari kita sama2 bertobat. Menyadari bahwa Dialah tuan, Dialah Tuhan. Dia yg berkuasa, bukan kita. Ketika kita masih kanak2 kita berpikir seperti kanak2 yg ingin dituruti&sulit memahami hati org lain. Namun tak bisa selamanya kita menjadi anak2, ada waktunya kita beranjak dewasa. Saat2 di mana kita bukan hanya mau dimengerti tapi jg mau mengerti. Bukan hanya mau diperhatikan tapi jg mau memperhatikan.

Di tengah2 komunitas, kita tidak bisa hanya menuntut dilayani. Menuntut kebutuhan rohani kita dipenuhi oleh para pemimpin/penatua. Tapi kita juga harus mulai belajar…belajar memberi, berbagi. Karena dgn memberi kita menerima, dgn menabur kita menuai. Belajar tunduk pada otoritas, bukan sekedar menghormati para pemimpin dan takut karena peraturan, namun belajar memahami apa maksud hati dan pikiran para pemimpin kita karena kita tahu bahwa setiap otoritas datangnya dari Tuhan sendiri.

GBU all ^^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s