Pengetahuan dan Spiritualitas

2 orang pendekar tua yg sangat disegani di dunia persilatan tengah bertarung dalam ruang baca kuil shaolin. Keduanya bukan sedang berlatih, melainkan pertarungan utk melampiaskan dendam. Di tengah pertarungan, tiba-tiba seorang rahib tua muncul. Rahib tak dikenal yg pekerjaannya sbg tukang sapu dan membersihkan ruang baca tersebut ternyata sangat sakti, kesaktiannya melebihi kedua pendekar tersohor itu. Setelah menghentikan pertarungan antara 2 pendekar itu, si rahib tua berkata “Kalian berdua mempelajari kungfu tingkat tinggi, namun tidak mau mempelajari ajaran agama. Akibatnya tanpa kalian sadari saat ini kalian mengalami luka dalam yang berat. Waktu kalian sudah dekat, segeralah bertobat”.

Cerita di atas adalah petikan dari film silat yg sempat saya tonton. Malam itu dalam benak saya terngiang kata-kata dari si rahib tua. Belajar ilmu tingkat tinggi tanpa mempelajari agama hingga akhirnya sesat dan melukai diri sendiri maupun org lain. Bukankah itu yg sering kita lakukan?

Hari-hari ini perkembangan iptek begitu pesat. Lihat saja. Dulu yg namanya transaksi barang, barangnya harus ada dan bisa dipegang, uangnya harus ada dan nyata; jaman sekarang kalau mau transaksi tidak perlu barang nyata (bisa berupa data seperti online shop) dan uangnya juga berupa data (pakai online/mobile banking). Dulu yg namanya bedah ya harus pakai pisau, meninggalkan bekas luka di kulit; tapi hari ini bedah bisa pake laser, efek sembuhnya hampir sama dan hebatnya tidak ada bekasnya. Bukankah semuanya itu adalah ilmu tingkat tinggi? Perlu waktu yg cukup lama dan keseriusan untuk kita dapat menguasai ilmu-ilmu itu hingga mahir.

Sadar atau tidak, seperti halnya dalam cerita silat di atas, kita seringkali menguasai ‘ilmu-ilmu tingkat tinggi’ alias iptek tanpa pernah mengembangkan sisi spiritualitas kita. Kita lupa atau bahkan gawatnya tidak mau tahu tentang keberadaan Sang Pencipta yg bukan hanya telah menciptakan kita namun juga menciptakan iptek. Akibatnya jelas fatal, iptek menjadi pedang bermata dua yg bisa melukai bahkan ‘membunuh’ baik diri sendiri ataupun orang lain.

Ingatkah betapa kacaunya dunia ekonomi tahun 2007-2008 ketika seorang pakar ekonomi dan mantan chairman NASDAQ, Bernard Madoff, melakukan teknik ‘ponzi scheme’? Bukankah itu penyalahgunaan ilmu ekonomi tingkat tinggi? Bukankah itu akhirnya membuat dia&keluarganya sendiri hancur? Bahkan akibat lanjutannya seluruh dunia merasakan krisis ekonomi yg cukup hebat.

Masih ingat di tahun 1945, ketika pertama kali senjata nuklir digunakan? Berapa banyak korban yg jatuh akibat salah satu ‘ilmu tertinggi’ bidang fisika itu digunakan? Einstein yg dikenal dgn teori relativitas yg jadi cikal bakal penemuan nuklir pun sampai menyesali penemuannya itu.

Lebih lanjut kita dapat melihat kasus-kasus yg terjadi di sekeliling kita seperti aborsi, HIV/AIDS hingga global warming. Semuanya terjadi karena manusia hanya menginginkan perkembangan iptek utk kenyamanannya tanpa mau peduli dgn sesama, lingkungan, dan Sang Penciptanya.

Lantas apa yg bisa kita buat utk memperbaiki smua ini? Satu kata saja utk langkah awal: bertobat. Bertobat yg dlm bhs inggrisnya repent, dapat diartikan sbg ‘melihat kembali dari tempat tertinggi’ atau ‘melihat kembali dari sudut pandangnya Tuhan’. Menyadari kembali sebenarnya Tuhan maunya gimana sih dgn iptek yg ada. Bukan menjauhi/menyingkirkan iptek, tp menggunakannya dgn tepat sesuai maunya Tuhan. Mempelajari ‘ilmu silat modern’ alias iptek sambil tetap memperdalam hubungan spiritualitas kita dgn Sang Pencipta. Niscaya dgn cara itu kita bisa benar-benar ngerti bagaimana cara memakai ilmu kita secara tepat, bukan hanya utk diri sendiri tp jg org lain dan lingkungan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s