Kenapa aku beda???

Alkisah di daerah antartika yg begitu dingin dan bersalju hiduplah sekelompok besar pinguin. Pemimpin dari kelompok tersebut baru saja memiliki bayi. Seekor bayi pinguin yg lucu sekali.

Waktu berlalu dan si bayi mulai tumbuh besar. Ia bersama pinguin-pinguin kecil lainnya harus bersekolah. Di sana mereka diajarkan nyanyian-nyanyian khas pinguin. Tentu saja nyanyian-nyanyian itu berguna sekali karena merupakan cara khas pinguin dlm berkomunikasi.

Namun sungguh sayang, si pinguin kecil anak kepala suku itu tidak suka menyanyi. Setiap kali gurunya mengajar menyanyi, ia malah asik menghentak-hentakkan kakinya mengikuti nyanyian sang guru. Tentu saja hal ini membuat sang guru kesal sehingga memberikan hukuman pada murid yg aneh ini.

‘Ma aku tidak suka menyanyi, aku suka menari’,begitu kata si pinguin kecil kepada ibunya. Sang ibu hanya terdiam,mencoba memaklumi. Namun sang ayah marah besar. ‘Tidak bisa! Semua pinguin harusnya menyanyi dan bukan menari!’,hardik sang ayah. Keluarganya tak bisa menerimanya. Begitu pula teman-temannya, mereka mengolok-olok dan mentertawai dia. Mereka menuluki dia ‘happy feet’. (Yah buat yg belum tau, kisah ini saya sadur dari sebuah film kartun berjudul ‘happy feet’)

Waktu berlalu & si ‘happy feet’ akhirnya memutuskan utk meninggalkan koloninya di antartika karena dia merasa tidak diterima. Ia kemudian ditangkap oleh sekawanan pelaut dan kemudian dijual ke sebuah kebun binatang. Di sanalah pertama kalinya ia menyadari bahwa keanehan yg selama ini membuatnya dihina ternyata berguna.

Seorang anak kecil yg agak nakal mengetuk-ngetuk kandang kaca tempat para pinguin tinggal. Si ‘happy feet’ merasakan itu sebagai musik dan mulai menari mengikutinya. Alhasil seluruh kebun binatang menjadi ribut, sebuah tontonan yg baru & menarik telah muncul.

Apa sih yg bisa kita pelajari dari film kartun ini?
Seringkali dalam hidup ini kita diajari utk menghindari atau menjauhi orang-orang yg berbeda dgn kita. Kita merasa risih kalau melihat orang yg tidak sama dgn kita, ntah itu cara berpakaian, gaya hidup, warna kulit, agama, dsb. Kita menyebut mereka sebagai ‘orang aneh’ atau ‘cacat’.
Atau jangan-jangan hari-hari ini kita yg menjadi ‘orang aneh’ di mata orang-orang di sekeliling kita. Kita dihina dan bahkan dicampakkan karena ada yg berbeda dari diri kita.

Negara ini punya semboyan ‘bhinneka tunggal ika’ yg sangat bagus, namun sayangnya jarang dipraktekkan 🙂

Keseragaman/kesamaan itu indah, namun hidup jauh lebih indah karena perbedaan. Konser musik kurang menarik kalau hanya ada 1 alat musik yg dimainkan, namun kalau terjadi perpaduan berbagai alat musik akan tercipta sebuah simfoni yg sangat indah. Begitu juga dlm kehidupan, ketika melihat orang lain yg berbeda,mestinya kita memandang mereka sebagai bagian dari keindahan. Menerima mereka yg berbeda seperti kita menerima yg sama dgn kita.

Bagaimana kalau kita yg berbeda dari lingkungan mayoritas kita? Jangan berkecil hati, karena justru kita bertugas utk memberi ‘warna’ yg indah buat lingkungan mayoritas itu. Perbedaan yg kita miliki mungkin saja justru diciptakan oleh Yang Maha Kuasa utk melengkapi lingkungan kita. Menerima diri sendiri seperti kita menerima Pencipta kita.

Bukankah dunia akan jauh lebih indah, ketika setiap perbedaan, baik suku, ras, warna kulit, agama, dsb, mampu bekerja sama mewujudkan sinergi?
Kuncinya hanya satu: perlakukanlah org lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s