Pelajaran dasar mentoring

Dalam sebuah penelitian dilakukan hal sebagai berikut:
2 ekor kera(sebut dengan si A & si B) dimasukkan ke dalam sebuah ruangan. Di tengah ruangan itu terdapat sebuah pilar besi yang bagian atasnya digantungi beberapa buah pisang. Jika ada kera yg mencoba naik ke pilar tersebut maka listrik akan di alirkan. Sehingga pada akhirnya kedua kera tersebut tidak berani lagi memanjatnya.
Kemudian si A dikeluarkan dari ruang tersebut dan dimasukkan kera si C. Tentunya si C yang lapar melihat pisang yang menarik di atas pilar tersebut ingin segera melahapnya. Namun apa yang terjadi? Si B tidak mengijinkan si C naik. Setiap kali si C mencoba naik si B pasti menariknya turun, padahal listrik sudah tidak lagi dialirkan pada tiang tersebut.
Setelah beberapa saat, si B dikeluarkan dari ruangan dan diganti dengan si D. Namun hal serupa terulang kembali. Si D yg mencoba memanjat pilar tersebut senantiasa ditarik turun oleh si C.

Lucu sekali ya kera-kera itu. Mereka sangat setia kawan. Tapi juga cukup bodoh. Kera C tidak pernah disengat listrik, namun dia takut memanjat pilar tersebut karena dilarang oleh kawannya. Dan ia pun dengan setia mengajarkan hal itu pada si D.

Apa hubungan cerita ini dengan kita?
Pernahkah kita mencoba melakukan suatu usaha namun oleh kawan kita malah dibilang ‘jangan nanti rugi, contohnya aku ini’? Atau malah kita yang melakukan hal demikian?
Sebenarnya hal tersebut tidaklah 100% salah. Mengingatkan akan resiko adalah hal yang baik. Begitu pula ketika kita mendengarkan nasihat dari orang lain. Namun jangan lupa untuk menganalisa dahulu kemungkinannya. Siapa tahu kondisinya sudah beda.

Saya membayangkan seandainya saja kera-kera itu lebih cerdas. Seandainya si B memberitahu si C tentang listrik itu namun tetap membiarkan si C mencoba meraih pisang itu sambil menjagai kalau-kalau si C beneran kesetrum. Dan kemudian si C sukses, mungkin si B juga bisa ikut makan pisang. Si D pun tak perlu kelaparan karena larangan yang tak jelas dari si C bukan?

Demikian juga peran kita sebagai mentor. Kita berkewajiban mengajarkan pengalaman-pengalaman hidup yang telah kita rasakan. Namun jangan sampai apa yang kita ceritakan membuat mentee kita merasa takut melangkah. Asalkan tidak melakukan hal yang salah/jahat, biarkan dia maju terus sambil kita bersiap menolongnya kalau-kalau benar terjadi kegagalan serupa dengan kita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s