Aplikasi-aplikasi yg biasa (saya) pakai di Linux (Debian / Kubuntu)

Aplikasi-aplikasi berikut tidak ikut terinstall secara default, jadi bisa digunakan ‘sudo apt-get’ atau Synaptic untuk meng-install. Selain itu pada Debian perlu di-setting repo untuk akses repo i386 (jika menggunakan linux 64bit) dan aktifkan juga ‘contrib non-free’.

  • synaptic – mengutak-atik repo list dan melakukan download-install app dari repo melalui GUI. Tanpa ini pun tetap bisa melakukan instalasi melalui konsole kok.
  • gkrellm – menampilkan data-data seperti prosesor, ram, lan speed, dsb di desktop.
  • playonlinux – menjalankan windows app. warning: tidak semua aplikasi berjalan dengan baik, dan dalam beberapa kasus perlu dicoba-coba mengganti versi dari Wine yg digunakan.
  • virtualbox – menjalankan berbagai OS, biasa saya pakai untuk testing OS lain.
  • tor – ‘proxy’ yg biasa saya pakai untuk mengakses website-website yg terblokir. Untuk aksesnya jangan lupa install add-on yg bisa mengatur proxy browser yg dipakai.
  • remmina – untuk akses VNC & RDP
  • vlc – video player, bisa juga untuk capture video dari kamera laptop.
  • kazam – capture screen secara terus menerus sehingga membentuk sebuah video. Bisa dipakai saat gaming ataupun membuat video tutorial (bisa di-combo dengan vlc untuk capture camera-nya).
  • teamviewer – akses komputer jarak jauh. Untuk Debian, sebaiknya gunakan yg tersedia di repo karena ada dependency problem jika menggunakan ver terbaru dari website.
  • chrome – browser tambahan. Khusus ini saya download langsung dari website Google.
  • audacity – simple sound editor

List ini sekaligus sebagai log saya saat menginstall, akan di-update saat ada app baru yg dibutuhkan.  hehehehe..

Jika ada usulan app yg bagus, bisa ditambahkan di bagian komentar. Thank you.

Testing ASUS ultrabook K401LB on Linux Debian Family

Beberapa hari terakhir saya cukup disibukkan dengan ‘mainan’ baru saya. hehehe. Sebenarnya saya sudah lama mengimpikan memiliki sebuah ultrabook yg notabene ringan dengan daya tahan baterai yg cukup panjang (>4jam) karena akan sangat berguna dalam pekerjaan, namun apa daya harga ultrabook di sini sama dengan harga sepeda motor. *sad*

Syukurlah akhirnya Asus me-launching ultrabook dengan harga yg relatif murah. ASUS K401LB ( spec ). Dan bagi saya pribadi, device kosongan / tanpa OS saat pembelian itu lebih menarik karena saya bisa bereksperimen lebih. hehehe. Jadilah saya mencoba meng-install Debian 8 (Jessie) ke ultrabook ini.

Sebelum bercerita lebih panjang mengenai kondisinya sesudah terinstall linux, saya ingin bercerita sedikit mengenai kesan saya pada hardware dari ultrabook ini. Secara fisik terlihat besar/lebar namun sangat ringan jika dibandingkan laptop lama saya (HP G32). Dan yg tak kalah menakjubkan adalah body-nya yg terbalut aluminium/metal, sehingga terasa dingin jika ditinggalkan dalam rungan ber-AC. Sayangnya, entah kenapa, ventilasi/saluran udara/fan output nya terletak tepat di bawah keyboard. Jujur hal ini membuat saya agak sedikit ragu dengan daya tahannya, kuatir overheat gitu. Namun setelah pemakaian >5 jam non-stop, saat dipegang tidak ada rasa panas yg berarti di bagian manapun. Posisi speaker yg juga berada di bagian bawah (samping kiri-kanan dari ventilasi tadi) juga sempat membuat saya mengernyitkan dahi karena laptop-laptop yg biasa saya lihat speaker-nya kan di atas keyboard – bawah monitor. Syukurlah suara yg dihasilkan tak terlalu buruk walaupun menurut saya pribadi agak aneh suaranya (mungkin saja karena pakai linux & tidak ada driver resmi Sonic Master untuk linux).

Problem yg saya lihat dari segi hardware adalah tombol tab yg setelah ditekan tidak kembali. Shock. Tapi setelah saya tunggu beberapa saat, dia kembali sendiri. Jadi saya coba tekan berkali-kali. Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya bisa berjalan (relatif) normal, dalam artian setelah ditekan bisa kembali hanya saja saat ditekan berasa agak aneh seperti bunyi ‘klik’ agak lebih keras jika dibanding tombol-tombol lain. Dan bunyi ‘klik’ ini juga terjadi pada tombol-tombol lain di bawahnya, yakni: caps lock dan left shift. Apakah cacat produk??

Oke sekarang saya akan bahas tentang instalasi linux-nya. Untuk tahap awal saya menggunakan dvd Debian Live 8.0 KDE. Proses instalasi (tanpa UEFI) berjalan dengan smooth, satu-satunya warning yg tampil hanyalah tidak adanya firmware untuk Realtek, tapi saya pilih skip saja. Booting dengan Jessie dari harddisk pun berjalan lancar.Berikut beberapa problem yg terjadi:
– tombol fn nyaris tidak berfungsi sama sekali. Yg jalan hanya fn+F1 yg berfungsi sleep, tapi si Jessie agak bermasalah dengan proses sleep ini (ada infonya di mailist Debian) dan fn+F7 untuk mematikan layar.
– fn+print screen masih jalan.
– fn+F11 & fn+F12 hanya jalan jika kita memutar lewat aplikasi, tapi tidak berfungsi jika memainkan film di youtube.
semua ‘error’ tersebut di atas tetap terjadi meskipun setting input sudah diubah ke ASUS keyboard.
– saat dicoba logout, yg terjadi malah hang, gak bisa lagi shutdown ataupun restart lewat GUI, tapi masih bisa lewat konsole.
– VGA NVIDIA tidak terdeteksi

Dalam keadaan capek sekaligus sebel, akhirnya saya putuskan untuk pindah ke Kubuntu, dengan pertimbangan: kernel lebih baru yg tentunya men-support lebih banyak hardware baru, pengguna Ubuntu lebih banyak daripada Debian sehingga akan memudahkan saya mencari bantuan, sudah terbiasa dengan Debian-based dan terakhir karena saya lebih terbiasa dengan tampilan KDE daripada GNOME (hehehe…).

Setelah download installer Kubuntu sekitar sejam-an dan dilanjut menunggu sekitar 30 menit untuk instalasi-nya, akhirnya saya bisa booting dengan Kubuntu. Dan respon pertama saya adalah kaget; Kaget karena ternyata si Kubuntu langsung memberitahukan ada security patch relatif besar yg perlu di-download plus harus download driver tambahan untuk NVIDIA-nya. Buat saya ini cukup amazing karena biasanya saya harus mendeteksi hardware secara manual.

Setelah semua proses update dan instalasi selesai. Berikut adalah problem yg masih terlihat sesudah menggunakan Kubuntu:
– tombol fn+F5 & fn+F6 untuk kontrol brightness dan fn+F2 untuk flight mode masih tetap tidak jalan.
– ada beberapa tulisan error saat proses booting (saya kurang paham apa yg error) namun tetap bisa booting, login dan berjalan dengan baik.

Sekian dulu dari saya, semoga membantu teman-teman yg mungkin ingin mencoba device yg sama.
Beberapa hal yg belum sempat dicoba seperti HDMI port (jika ada problem) nanti akan saya tambahkan lagi di artikel ini. Jika ada teman-teman yg bisa membantu memperbaiki problem yg masih tersisa di atas, mohon bantuannya untuk menuliskan di komentar.
Terima kasih.

UPDATE (8 Mei 2016):
Kubuntu sudah upgrade ke versi 16.04. Semua problem di atas (pada special keys) tetap terjadi.
Selain itu sudah beberapa kali saya coba jika maduk ke sleep/hibernate pasti akan problem saat relogin. Jadi sangat tidak disarankan untuk melakukan sleep/hibernate.
Pada Kubuntu ver 16.04 ini juga saya temukan problem jika menggunakan login guest. Problemnya adalah permintaan password saat re-login sedangkan guest ini tidak ada default password nya. Kondisi re-login dapat terjadi jika tidak ada aktifitas selama beberapa menit (saya belum menemukan lokasi setting untuk mematikan fitur ini).

Tentang secondary screen
Saya pribadi menggunakan laptop ini untuk bekerja dan tentunya akan ada saat dimana perlu mempresentasikan sesuatu sehingga laptop harus dicolok ke layar lain ataupun LCD proyektor. Untuk mengatasi hal ini (tidak adanya VGA port), ada 2 solusi yg dimungkinkan:
1. USB to VGA
Percobaan saya sejauh ini dengan menggunakan beberapa sambungan yg ada di toko-toko komputer di Marina Plaza gagal total. Si Kubuntu tidak bisa mendeteksi kehadiran perangkat tersebut.
2. HDMI to VGA
Pada Kubuntu ver 14, perangkat ini agak lambat proses deteksinya dan harus direstart beberapa kali.
Pada Kubuntu 16.04, proses berjalan dengan sangat smooth tapi butuh sedikit trik untuk melakukannya. Caranya: biarkan laptop booting dulu hingga tsmpilan desktop baru kemudian tancapkan konektor HDMI-VGA nya, setelah konektor terdeteksi barulah tancapkan kabel VGA nya. Sejauh ini yg saya temukan problem yg muncul hanyalah masalah resolusi, resolusi HD pada laptop ini tentu saja tidak dapat disupport oleh sebagian besar proyektor yg ada sehingga perlu kita turunkan resolusinya.

Doa Sang Boneka Beruang

“Sudahlah Anna, lupakan saja dia. Orang kayak gitu ngapain kamu tangisi, cari saja yg lain, yg lebih baik, yg bener-bener cinta sama kamu.”

“Tapi ma..”, terdengar Anna menyahut sambil sesenggukan. Kedua pipinya yg chubby, dibasahi oleh air mata.

“Tapi..tapi..tapi.. Mau sampai kapan kau begini? Kalau memang buat dia terlalu berat untuk menengok mu di hari ulang tahunmu, apa itu namanya cinta?”, sahut mama dengan nada kesal.

Aku hanya bisa terdiam memandang adegan trenyuh di depanku. Diam. Dan sebenarnya memang hanya itu yg bisa kulakukan.

Aku terkejut. Tiba-tiba saja sepasang tangan yg lembut memelukku, kemudian mengangkat dan mendudukkanku di pangkuannya. ‘Anna’, teriakku dalam hati. Ntah sejak kapan, Anna tiba-tiba sudah duduk di dekatku, di samping kasur empuk yg menjadi tempatku sehari-hari.

“Hai, bear. Cuma kamu yg bisa pahami aku.”, suara Anna lirih di telingaku. ”Kamu sahabatku, bear. Kau masih ingat dia? Dia yg biasa bersamaku; tertawa bersama, makan bersama, jalan-jalan. Dia.. dia..”. Air mata Anna tanpa sadar membasahi wajahku, yah aku memang ingin menangis bersamamu princess Anna, tapi apa dayaku. Ah, setidaknya, sekarang aku nampak menangis bersamamu.

Aku terus berada di sana, dalam dekapan Anna. Sejak ia duduk di samping kasur empuknya, hingga berbaring dan terlelap. Ya, setiap katanya kudengarkan dengan baik, bahkan setiap kata yg mungkin tak terucap oleh bibir kecilnya; hanya bisikan dalam gerakan dan air mata.

Orang yg paling diharapkan oleh Anna, sosok yg sangat dikasihinya, akan melanjutkan study di luar negeri. Dan yg membuat Anna begitu sedih adalah karena pria itu memilih untuk tidak hadir sama sekali di rumah Anna tepat di hari ulang tahunnya. Yg lebih menyakiti Anna adalah ketidakhadiran itu karena dilarang oleh sang mama yg kuatir anaknya membatalkan keberangkatannya demi cinta.

Hari itu berlalu dalam suasana yg terus kelabu. Hari-hari Anna pun tampak agak murung, hingga akhirnya dia membulatkan tekad, meninggalkan pria yg tengah sibuk dengan study-nya di luar negeri. Dan aku, seperti biasa, menemani Anna dengan duduk diam mendengarkan kisah-kisahnya.


Tepat 2 Tahun telah berlalu, dan hari ini, di hari ulang tahun Anna, aku teringat kembali kisah itu. Hari di mana aku ikut menangis bersama Anna. Hari di mana Anna menyebutku sebagai sahabatnya yg paling berharga.

Anna terlihat sibuk sekali. Dengan senyuman dan semangat, ia menjalani harinya yg penuh aktifitas. Jujur, aku gembira melihatmu seperti itu, princess Anna. Namun, tahukah kau, bahwa aku rindu sekali, rindu untuk duduk dan mendengarkanmu bercerita. Tertawa bersamamu. Menangis bersamamu. Dalam pelukanmu.

Tapi… ah, sudahlah.. siapa aku.. hanya seonggok boneka yg toh nanti juga akan kau peluk kembali; saat engkau butuh. Setidaknya, saat ini kau gembira dan itu cukup buatku..

Selamat Ulang Tahun, princess Anna.. Doaku, semoga kau selalu bahagia..

Upgrade (Debian) Wheezy (7.8) to Jessie (8.x testing)

hi all,
Pada artikel ini saya sekedar ingin share pengalaman saya dalam melakukan proses upgrade dari Wheezy(7.8) ke Jessie(8.x alias testing). Proses upgrade ini sebenarnya gampang-gampang susah. Tutorialnya sebenarnya sudah ada di wiki resmi Debian (https://wiki.debian.org/DebianTesting) namun ternyata setelah dijalani, tak semulus yg saya bayangkan. hehehe. Karena tidak mulus itulah, saya merasa perlu untuk menuliskan pengalaman saya, karena siapa tahu ada orang lain yg membutuhkan bantuan/mengalami kondisi yg sama.

Langkah pertama untuk upgrade adalah dengan mengubah isi dari: /etc/apt/sources.list dengan:

deb http://security.debian.org jessie/updates main contrib non-free
deb http://http.debian.net/debian/ jessie main contrib non-free

kemudian lakukan apt-get update && apt-get upgrade.

setelah melalui proses download yg cukup melelahkan dilanjutkan proses instalasi yg juga relatif lama (pengalamanku sekitar sejam), maka proses akan selesai dengan kondisi error. Jujur saya pribadi kurang paham kenapa bisa error. Saya sempat berpikir mungkin error karena ada file yg kurang saat download mengingat koneksi internet Indo yg rada lemot. saya ulangi lagi perintah update&upgrade di atas namun tetap error. Dalam kondisi 1/2 sadar (maklum jam 1 pagi) saya putuskan untuk mencoba direstart saja, siapa tahu ada beberapa bagian kernel atau apalah yg nyangkut karena masih terpakai. Yang bikin shock, setelah direstart, sesudah layar GRUB, blank black screen. 😦 esmosi, pingin banting laptop; untungnya sadar saya gk ada duit buat beli laptop baru jadi batal banting; lol. Karena sudah jam 2++ pagi, saya putuskan istirahat dulu.

Setelah tidur nyenyak, dalam kondisi otak yg fresh, saya dapat ide untuk melakukan proses seperti yg pernah saya lakukan dahulu saat memperbaiki GRUB yg crash (cara detailnya bisa dibaca pada blog ini pada judul yg lain).
Jadi, segera saja saya cari dvd live-linux. Ketemunya dvd: live-linux Ubuntu 14.04 (Trusty) . Yo wes rapopo. segera saya masukkan dan booting. Di dalam Ubuntu, saya segera melakukan:

sudo umount -a
sudo mount /dev/sda8 /mnt           (sda8 = posisi OS Debian pada hdd saya)sudo mount –bind /dev /mnt/dev
sudo mount –bind /sys/ /mnt/sys/
sudo mount –bind /proc/ /mnt/proc/
sudo chroot /mnt/
apt-get update && apt-get upgrade

Selesai melakukan semua di atas, saya masih mendapati sedikit sisa error. Jadi saya gunakan saja: apt-get autoremove && apt-get autoclean. Kemudian restart, booting kembali dengan hdd (bukan dvd).

Sukses! Berhasil masuk ke desktop. Tapi ntah kenapa saya merasa ada yg janggal. Maka saya coba jalankan beberapa prog yg sudah terinstall. Ternyata banyak yg gak jalan. 😦 Saya buka Pidgin (untungnya jalan) dan tanya-tanya ke para senior di IRC #Debian, gak ada yg bisa bantu. Akhirnya saya keingat bahwa masih ada sedikit error saat proses upgrade dan perkiraan saya yg error itu adalah GNOME-nya.
NB: saya instalasi awal Wheezy-nya pake paket live-dvd Debian with GNOME.

Maka refleks saja saya lakukan

apt-get purge gnome* && apt-get install kde-standard kde-plasma-desktop

Yup, perintah itu sangat kejam karena akan me-remove ratusan MB file-file yg berhubungan dengan gnome tanpa pandang bulu, padahal ada kemungkinan beberapa file masih akan dipakai nantinya. Tapi saya lebih memilih membersihkan semuanya dulu daripada banyak sampah di sistem baru saya. Dan setelah semua sukses terinstall, saya reboot, semua berjalan dengan normal. *happy ending* 😀

tambahan.. barusan saya coba ternyata virtualbox saya bermasalah, setelah diutek-utek sejam lebih akhirnya sadar kalo ternyata file header dari kernelnya tidak terinstal 😦 so, jgn lupa lakukan:

apt-get install linux-headers-$(uname -r)

NB:
– mungkin jika ada yg ingin mencoba, bisa dilakukan install ulang GNOME-nya. Tapi buat saya pribadi saya cukup menikmati KDE ini.
– semua perintah di atas lakukan dengan kondisi root
– kalo ada cara yg lebih praktis terhadap langkah-langkah di atas atau ada lagi error yg (mungkin) belum saya sadari, silahkan tulis di komentar yah.. thanks.. 😀

Mengatasi problem instalasi GRUB pada Kali (bisa juga dicoba pada Linux yg lain)

tested in: KALI 1.0.9a
1. boot dari live-cd, buka terminal:
2. # fdisk -l cari partisi yg sudah terinstall Kali: /dev/sda1, /dev/sda2, etc)
3. # mount /dev/sda1 /mnt (misal Kali terinstall pada: /dev/sda1)
4. # mount –bind /dev /mnt/dev
5. # mount –bind /sys/ /mnt/sys/
6. # mount –bind /proc/ /mnt/proc/
7. # chroot /mnt/
8. # apt-get install grub-pc grub2-common
9. # grub-install /dev/sda

NB: bisa jadi langkah 8 & 9 sudah pernah, jika sudah pernah skip saja ke 8a

8a. # grub-install –recheck /dev/sda (install grub in the HDD sda, not sda1, sda2, etc.., just sda.

10. # update-grub

11. lalu shutdown dan tes untuk booting langsung dengan menggunakan harddisk yg terinstall Kali

Selamat mencoba…
eboot & test the GRUB