Tulisan yang hilang

Telah lama ku tak menulis
Rangkaian kata terukir pena
Menyurat hati nyanyikan rasa
Hingga jiwa dapat terlukis

Ya,
Hatiku lama mati
Terpendam dalam dendam
Terkubur lagi hancur

Mungkinkah nanti
Yang mati bangkit lagi
Yang padam bersinar lagi

Ataukah kamu
Yang akan berbagi jiwa
Sehingga kita tidaklah dua
Menyatu menjadi satu

Iklan

Angin Malam

Oh angin malam
Sudikah dirimu berdiam
Di sampingku hingga terang
Mendengar keluhku yang penuh bimbang

Ya angin malam
Sungguh ku tak paham
Arti dari kata cinta
Entahkah itu hanya rasa
Entahkah itu sebuah karya

Oh angin malam
Ntahlah kini apa kurasa
Terasa sepi kosong hampa
Lorong waktu tarikku tenggelam

Oh angin malam
Kutitip padamu sebuah salam
Dari kehampaan yang terdalam

Dataku sebesar 200an GB lenyap?!!!

Ini adalah kisah yang kualami sendiri saat upgrade Ubuntu 18.04.0 beberapa hari lalu. Jadi yah, bisa dibilang ini adalah kisah nyata sekaligus berbagi tutorial, yang (semoga) berguna untuk siapaun yang mengalami kejadian serupa dan sekaligus sebagai catatan untuk diriku sendiri di masa depan jika seandainya kasus serupa terulang kembali.

Kita mulai dari kisahnya dulu. Jadi ceritanya ini laptop (Asus K401LB, bisa dilihat di artikel lain) sejak awal tidak saya isi Windows, selain malas ngeluarin kocek tambahan, kebetulan pingin sedikit bergaya (ciieee…) dengan ke mana-mana bawa laptop linux. Singkat cerita sejak saya pakai Xenial (Ubuntu 16 LTS) saya tidak pernah mengalami masalah/kendala berarti. Semuanya lancar, aman terkendali, hingga kemarin (26 April 2018) muncul lah sang penerus yakni Bionic Beaver (Ubuntu 18 LTS). Saya memang agak malas mengikuti versi pre-release-nya, tapi diam-diam saya membaca review-review dari para pengguna di luar, dan yah jujur saja saya memang sangat mengharapkan update kernel cukup besar mengingat masih banyak shortcut trouble saat ubuntu dipakai di laptop. Hari H yang ditunggu-tunggu pun tiba, 27 April pagi-pagi saya buru-buru lakukan upgrade di menu aptitude dan hasil ZONK!!! alias masih belum bisa upgrade. Aaarrggghhh…

Tidak putus asa, saya intip di website resmi ubuntu.com. Wah installernya uda nongol nih, buruan sedot ah sebelum ke kantor karena inet d rumah lebih cepat daripada di kantor (somboonngg…). Selesai download, pasang installer ke FD, buru-buru deh ke kantor. Skip cerita.. Tanpa basa-basi kuformat partisi OS dan ganti pakai yang baru. Waktu berlalu dengan cepat, beberapa drama ‘jadul’ pun terulang. Mulai dari crash GRUB-nya hingga terpaksa akhirnya install ulang dengan UEFI. Dan setelah sekitar 2jam berlalu, akhirnya bisa melihat logo Kubuntu muncul. Yeaaayy!!! Masukin password daannn.. nothing happened.. F***!!!! Coba utak-atik agak lama, install ulang lagi dengan berbagai pilihan menu berbeda, dan tetap nyangkut gak bisa login. Coba versi konsole/terminal, masuk tuh.. tapi StartX langsung crash.. setelah berulang-ulang error baru sadar ternyata dalam pesan error-nya (gak sempat fotoin, sorry) disebutkan (kira-kira) partisi untuk /home tidak bisa ditulisi. eh?!!!

Setelah mikir-mikir sejenak kuputuskan untuk merubah susunan partisi. Untungnya HDD kubuat bukan cuma 2 melainkan 4 partisi (niatan awalnya 2 yang lain buat cadangan untuk OS FAT32 😀 ), jadinya masih ada space yang bisa diutak-atik. Pindahlah directory /home dari partisi no.5 ke partisi no.6 (penjelasan mengenai kenapa bisa sampai partisi sebanyak itu nanti saya ceritakan di artikel lain saja). Sampai sini laptop sudah bisa berjalan lancar, tidak ada masalah berarti, kecuali dataku (di partisi no.5) yang besarnya 200GB an.. #sob

Butuh sekitar 2jam an sampai akhirnya saya sdar bahwa data saya itu bukan corrupt melainkan terkena enkripsi dari si eCryptfs. Beneran saya lupa, karena enkripsi itu dibuat pada jaman masih nyobain pakai Debian Jessie. Setelah Jessie, waktu pindahan ke Xenial gak ada masalah sama sekali, dan entah kenapa di sini jadi masalah. Tanya-tanya ke mbah Google, saya dapat ide untuk mengeksekusi perintah: ecryptfs-recover-private pada folder .Private di partisi tersebut. Dan anehnya hasilnya FAILED!!! Aaarrrggghhh…

Setelah nyaris semalaman akhirnya saya menemukan solusi, berikut:

  1. cari file bertuliskan ‘wrapped passphrase’, lalu eksekusi file tersebut dengan perintah: ecryptfs-unwrap-passphrase
  2. simpan baik-baik hasil dari eksekusi perintah di atas. Kombinasi karakter tersebut selanjutnya akan disebut sebagai mount passphrase.
  3. jalankan: sudo ecryptfs-add-passphrase –fnek
  4. saat diminta input passphrase, masukkan mount passphrase tersebut

Screenshot_20180502_141259

    5. Setelah muncul tampilan seperti di atas, simpan karakter pada bracket baris ke-2 (contoh: 76a9f….)
6. Lakukan: sudo mount -t ecryptfs <partisi terenkripsi> <target mounting>
7. Perintah di atas adalah interaktif manual mounting + decrypting, untuk praktisnya masukkan saja inputan berikut:

  • Passphrase: <masukkan mount passphrase>
  • Selection: aes
  • Selection: 16
  • Enable plaintext… : n
  • Enable filename…: y
  • Filename Encryption Key… : <masukkan karakter dari bracket ke-2 tadi>

   8. Setelah proses di atas, tunggu beberapa menit, tutup dulu Dolphin jika sudah terbuka, lalu buka ulang pada mounting point tersebut; File-file tadi pasti sudah ter-decrypt di sana.

Catatan: dekripsi ini tidak permanen, data akan kembali ter-enkripsi setelah shutdown.

 

 

Indahnya Bionic Beaver

Setelah penantian yang cukup panjang, 26 April 2018 (tepatnya 27 April 2018 pagi, WIB) akhirnya Ubuntu LTS versi final terbaru dipublikasikan. Ubuntu 18.04 ini diberi nama Bionic Beaver. Tentunya selain penggunaan kernel linux versi terbaru 4.15, juga ada segudang tambahan fitur lain. Untuk preview secara tampilan di youtube sudah banyak tuh yang upload, namun seberapa efektif penggunaannya untuk keperluan desktop/laptop sehari-hari?

Dalam tulisan kali ini, saya ingin mengulas pengalaman pemakaian saya terhitung sejak 27 April. Oh ya, sebelum membahas lebih jauh, perlu saya sampaikan bahwa saya memakai versi Kubuntu yakni flavor Ubuntu dengan desktop engine KDE; sehingga besar kemungkinan akan ada beberapa perbedaan aplikasi standar maupun tampilan desktop. Oke langsung saja, berikut beberapa pengalaman yang saya rasakan mulai dari proses instalasi:

  • Untuk proses instalasi, saya menggunakan flashdisk. Setelah bootup screen, akan ditawarkan untuk mencoba ‘live version’ dan ‘install’. Awalnya langsung saya pilih ‘install’, namun setelah beberapa steps, saya langsung kaget dan teringat kenangan buruk masa lalu.. hehehe.. yah benar, proses instalasinya NYANGKUT!!! layar berhenti pada proses instalasi di mana bar meter nya tetap 0, bahkan setelah ditinggalkan selama kira-kira 30menit. So, untuk next step-nya saya sarankan untuk memilih ‘live version testing’ saja.
  • Gelombang ke-2 testing instalasi, saya langsung klik ‘live version test’. Pada desktop testing ini langsung ditampilkan menu untuk instalasi ubuntu. Jalankan saja menu itu dan kita akan langsung mendapatkan layar instalasi OS yang sangat cantik. Gak beda jauh lah dengan layar instalasinya ‘si jendela’. hehehe.. Dan untuk proses instalasi ini seharusnya tidak ada masalah, namun jujur saya pribadi dapat masalah karena HDD yang saya pakai bukanlah HDD kosong, melainkan sudah ada datanya dan tidak boleh terhapus. Sempat terjadi crash, namun akhirnya successfully solved, nanti saya jelaskan detailnya di artikel berikutnya termasuk solusinya.
  • Lanjut ke testing setelah instalasi sukses sempurna. Secara tampilan, (menurut saya) tidak terlalu ada perbedaan dengan versi sebelumnya. Tapi yang mengejutkan adalah waktu saya mencoba shortcut-shortcut yang ada pada laptop (ASUS K401LB).Beberapa tombol shortcut function yang ada di laptop saya: sleep, airplane, brightness control, multi monitor control, touch pad locking, volume control. Semuanya berjalan lancar!!! YEEAAYYYY!!!
  • Poin berikutnya yang jadi sorotan saya adalah sleep system nya. Pada versi 14.06, jika kita melakukan sleep, selalu akan terjadi sedikit banyak problem saat reaktifasi. Mengapa? Pada forum diskusi resminya, pihak publisher mengakui bahwa ada gangguan session/session crash. Nah, pada versi kali ini, semuanya berjalan sangat lancar… hehehe..
  • Brightness control pada versi 14.06, hanya bisa dilakukan dengan scrolling pada taskbar (tepatnya pada icon battery) di desktop, sedangkan pada versi ini sudah bisa digunakan tombol ‘fn’+f6/f7.
  • Untuk keperluan presentasi dengan proyektor, tak perlu khawatir, karena di sini fitur ini berjalan jauh lebih lancar tanpa hambatan. Jika pada versi 16.04 saya pernah mengalami crash di tengah-tengah seminar gara-gara terlalu sering berpindah antara mode ‘duplicate’ dengan mode ‘extend display’ ditambah beberapa kali cabut konektor; Kemarin saya melakukan semua itu dan tidak mengalami error sama sekali. Mantaaabbb…
  • Mengenai keyboard, entah hanya saya saja atau memang begitu, pada ver 16.04 saat mengetik artikel sepanjang ini saya sering kesal karena pointer bisa tiba-tiba melompat ke lokasi yang tak terduga. Jadinya ribet tuh, harus selalu ngeliatin layar memastikan ketikan kita di tempat yang benar atau tidak. Nah di versi 18 ini, lancar jayaa, gak ada tuh yang namanya kursor lompat..
  • LAN Printer detection? LANCAR… hahaha.. yang satu ini bikin saya speechless karena baru seminggu sebelum upgrade saya bingung setup laptop ini agar bisa nge-print pada printer kantor yang tersambung via LAN. Dan setelah upgrade, gak usah bingung setting tuh, setelah scan, langsung detected dan tinggal sambungkan saja langsung bisa cetak; berasa kayak pake OS sebelah yang harus bayar lumayan itu.. 😀

Akhir kata, saya puas (pake banget) dengan upgrade OS kali ini. Bahkan saya sempat nyndir teman sekantor yang pakai OS berbayar (tentu saja versi bajakan), “nih OS ku gratis, gak perlu mbajak, gak perlu cari crack software, gak perlu bingung install anti virus, sama cantiknya pula”.. hahahaha…

Intinya, nih upgrade bikin Kubuntu bisa head-to-head dengan OS lain..

Aplikasi-aplikasi yg biasa (saya) pakai di Linux (Debian / Kubuntu)

Aplikasi-aplikasi berikut tidak ikut terinstall secara default, jadi bisa digunakan ‘sudo apt-get’ atau Synaptic untuk meng-install. Selain itu pada Debian perlu di-setting repo untuk akses repo i386 (jika menggunakan linux 64bit) dan aktifkan juga ‘contrib non-free’.

  • synaptic – mengutak-atik repo list dan melakukan download-install app dari repo melalui GUI. Tanpa ini pun tetap bisa melakukan instalasi melalui konsole kok.
  • gkrellm – menampilkan data-data seperti prosesor, ram, lan speed, dsb di desktop.
  • playonlinux – menjalankan windows app. warning: tidak semua aplikasi berjalan dengan baik, dan dalam beberapa kasus perlu dicoba-coba mengganti versi dari Wine yg digunakan.
  • virtualbox – menjalankan berbagai OS, biasa saya pakai untuk testing OS lain.
  • tor – ‘proxy’ yg biasa saya pakai untuk mengakses website-website yg terblokir. Untuk aksesnya jangan lupa install add-on yg bisa mengatur proxy browser yg dipakai.
  • remmina – untuk akses VNC & RDP
  • vlc – video player, bisa juga untuk capture video dari kamera laptop.
  • kazam – capture screen secara terus menerus sehingga membentuk sebuah video. Bisa dipakai saat gaming ataupun membuat video tutorial (bisa di-combo dengan vlc untuk capture camera-nya).
  • teamviewer – akses komputer jarak jauh. Untuk Debian, sebaiknya gunakan yg tersedia di repo karena ada dependency problem jika menggunakan ver terbaru dari website.
  • chrome – browser tambahan. Khusus ini saya download langsung dari website Google.
  • audacity – simple sound editor

List ini sekaligus sebagai log saya saat menginstall, akan di-update saat ada app baru yg dibutuhkan.  hehehehe..

Jika ada usulan app yg bagus, bisa ditambahkan di bagian komentar. Thank you.